Testimoni Minyak Varash Untuk Penyakit Autoimun dan Benjolan di Payudara

AUTOIMUN SELAMA 5 TAHUN DAN BENJOLAN PADA PAYUDARA TERBANTU DENGAN MINYAK VARASH
Nama            : J. Prahmawati
Domisili         : Klaten
Usia               : 35 Tahun
Pekerjaan      : Guru.



Saya mengenal produk Minyak Varash Natural pada bulan Maret tahun 2019. Saya merupakan seorang odamun (orang dengan penyakit autoimun), positif odamun sejak tahun 2013. Autoimun adalah sebuah kelainan sistem kekebalan tubuh (imunitas) mengalami kesalahan dalam mengenali sel normal pada tubuh sehingga yang seharusnya melindungi tubuh justru berbalik menyerang sel tubuh sendiri.
Untuk lebih sederhananya, Jika diibaratkan tubuh adalah suatu negara, sistem imun sebagai tentara. Tentara sebagai pertahanan suatu negara mengalami eror system/kekacauan, sehingga sebagai pihak pelindung justru menyerang rakyatnya/warganya sendiri. Saya odamun dengan perbandingan rasio imun 10 kali lipat lebih banyak dari manusia normal pada umumnya. Odamun harus pandai dalam “menjaga diri” baik secara jasmani dan rohani, menghindarkan dari pikiran berat, managemen stress, dan kelelahan fisik.

Dapat dibayangkan apabila sistem imun yang berlebih berjumpa dengan alergi, luka atau tekanan/stess, tentu hal ini akan memperparah kondisi dari odamun. Sebagai salah satu odamun saya kerap mengalami berbagai keluhan seperti sakit kepala, alergi, migrain, lelah yang berkepanjangan meski cukup istirahat, sensitif terhadap matahari, nyeri sendi hingga tak dapat menggerakkan anggota tubuh, asam lambung, benjolan getah bening dll.
Semua keluhan satu persatu tak luput mewarnai hari-hari saya sebagai odamun hingga terkadang saya merasa sakit ini membatasi berbagai aktivitas saya. Namun saya harus tetap berusaha optimis menjalani hidup dengan terus berkarya dengan berdamai dari penyakit ini.
Selama lima tahun (2013- April 2018) saya didampingi oleh dokter spesialis syaraf di rumah sakit di kota Klaten. Dokter spesialis syaraf tersebut selalu mensupport saya agar dapat menjalani pola hidup sehat. Selama lima tahun tersebut saya hanya menelan obat steroid jika dalam kondisi flare saja dengan pola kambuh 1 tahun sekali ketika musim dingin tiba.
Dosis yang steroid yang diberikan hanya berkisar 8mg selama 3 hari. Kondisi flare terberat yang pernah saya alami adalah nyeri di seluruh bagian persendian hingga tak dapat menggerakan anggota tubuh. Saya hanya bisa terbaring menahan rasa sakit setiap kali saya menggerakkan tubuh. Ketika nyeri sendi menyerang, fisik saya seperti nenek yang berumur lanjut kesulitan dalam bergerak, duduk atupun berjalan. Pada umumnya orang mengira saya mengalami penuaan dini.

Pada tahun 2018 tepatnya bulan Mei saya flare dengan pola yang berbeda dari lima tahun sebelumnya. Sistem pencernaan saya terserang, seluruh mulut dan tenggorokan saya dipenuhi sariawan. Kondisi semakin melemah karena tubuh tidak mendapat asupan makanan dan minuman. Terpaksa saya harus menjalani perawatan rumah sakit dan kembali menelan obat steroid. Semenjak bulan Mei 2018 ini saya terpaksa menelan obat steroid karena ganti dokter spesialis pedamping karena naik tingkat faskes tingkat propinsi (rumah sakit tipe A).
Obat steroid biasanya dianggap sebagai “obat dewa” bagi odamun untuk menggendalikan sistem imun yang berlebih. Namun dibalik khasiat obat dewa, odamun juga harus bersiap menerima sepaket konsekuensi efek samping yang terbilang tidak ringan. Bak makan buah simalakama, odamun terbantu dengan steroid namun harus bersiap menggalami kebotakan, nyeri otot atau tulang, gangguan fungsi hati atau ginjal, gangguan psikologis (perubahan mood, gelisah, halusinasi, perilaku agresif), jerawat, penurunan fertilitas, meningkatkan kadar gula darah dan kolestrol dan dapat menyebabkan ketergantungan steroid. Selama 9 bulan saya harus rutin menelan steroid, namun saya justru merasa bertambah banyak keluhan.

Berawal berat badan bertambah 15 kg, selulit merah kehitaman, pusing bertambah berat, dll. Menyadari efek samping steroid berdampak negatif di tubuh, saya mencoba konsultasi kepada dokter pedamping untung mengurangi dosisnya. Tentu, di awal pengurangan dosis berdampak lemas, letih, lesu, tidak nafsu makan, sakit kepala berat tak tertahankan.
Pada bulan Maret 2019 saya diperkenalkan suami produk Minyak Varash Natural yang diperolehnya dari teman kantornya bu Priska. Dengan niat ingin sehat secara alami, saya awali memakai minyak Varash dengan doa dan dilengkapi cinta suami yang bersedia membalurkan di bagian tubuh yang sakit sepanjang leher sampai tulang punggung.
Alhasil pertama kali penggunaan sakit kepala yang biasanya mengganggu aktivitas saya dapat hilang pada pemakaian pertama Varash. Tentu, rasa bahagia dan kagum memenuhi pikiran saya atas khasiat minyak Varash.
Hari demi hari tiada yang terlewat tanpa Varash membalur tubuh saya. Varash selalu menjadi andalan setiap keluhan saya. Pada saat asam lambung saya naik, rasa sakit di uluhati, mual dan perih dibagian perut teratasi saat saya balurkan Varash di bagian dada, perut dan punggung.
Biasanya, setelah dibalurkan Varash saya akan berkeringat banyak dan akan buang angin (kentut, bersendawa). Hal ini menandai membaiknya kondisi asam lambung dan berselang 1 jam saya akan sembuh.
Varash juga membantu menghilangkan selulit merah kehitaman di bagian paha saya. Efek steroid mengurangi keindahan dengan munculnya selulit yang tak sedap jika dipandang mata. Awalnya saya merasa ngeri sendiri, paha dipenuhi selulit dan mengurangi kepercayaan diri. Saya lalu mencoba membalurkan Varash di bagian paha yang berselulit. Setiap 6 jam sekali pemakaian saya ulangi kembali, hasilnya dapat dilihat dalam seminggu selulit saya memudar.
Puji Tuhan, dengan produk Varash sangat membantu kondisi saya. Varash masih tetap menjadi produk andalan saya, saat nyeri sendi menyerang hanya dengan membalurkan di bagian sendi yang terasa nyeri.
Saat musim hujan tiba, seluruh sendi terasa nyeri jika kehujanan. Bahkan hanya untuk aktivitas mencuci baju atau mencuci piring saja sendi tangan terasa nyeri. Namun semenjak berjodoh dengan Varash keluhan nyeri dapat teratasi tanpa harus menelan obat anti nyeri.
Sampai sekarang saya masih setia membawa minyak Varash kemanapun saya pergi. Bagaimana saya bisa melupakannya, berbagai keluhan dari gatal, tersengat lebah, sensitif panas matahari, memar, herpes, nyeri, batuk pilek, masuk angin dapat diatasi cukup hanya dengan membalurkannya di bagian yang terasa sakit. minyak Varash sangat aman untuk berbagai kalangan dari anak-anak sampai usia lanjut.
Seluruh anggota keluarga saya memakai minyak Varash. Bahkan sampai detik ini saya masih membalurkannya dibagian benjolan kecil yang ada di kedua payudara saya. Benjolan tersebut sudah lama ada, namun saya tidak dapat mengingat persis kapan munculnya benjolan tersebut.
Benjolan tersebut apabila diraba berada di atas daging namun di bawah kulit. Besaran benjolan tidak bertambah besar, keberadaannya membuat saya cemas meski belum saya periksakan lebih lanjut. Selain takut, saya hanya percaya pasti akan menghilang suatu saat nanti.

Dengan bantuan minyak Varash selama 2 minggu benjolan tersebut berangsur kempes/mengecil. Tiga hari pemakaian pertama Varash, keluar cairan semacam nanah dari benjolan tersebut. Saya bersihkan nanah tersebut dan lebih intensif membalurkan Varash.
Bekas luka masih ada namun tidak lagi menonjol seperti dulu. Semoga ke depan dengan telaten membalurkan Varash benjolan dapat hilang tanpa bekas.
Besarnya harapan ini saya percayakan kepada Varash seutuhnya. Dengan demikian, semoga testimoni hebatnya Varash akan saya lanjutkan kisahnya. Hebatnya Varash membuat saya ingin bergabung menjadi keluarga besar agen Varash Indonesia.

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Testimoni Minyak Varash Untuk Penyakit Autoimun dan Benjolan di Payudara"

Posting Komentar